Pages

Saturday, 14 September 2013

Si Bungsu

Setelah aku pikir-pikir, mungkin alangkah baiknya kuhabiskan hari-hariku hanya untuk membaca, dan bacaan yang tepat untuk mengisi waktu luang ini adalah membaca novel, inilah yang terbaik menurutku saat itu. Hingga pada suatu ketika salah satu temanku mengenalkanku dengan salah satu novel berwarna merah serta dilengkapi dengan warna hitam sedikit di sampingnya dan dihiasi gambar sepuluh anak-anak menunjuk sebuah pelangi, di bagian tengah sampul novel itu tertulis “ LASKAR PELANGI “.
            Aku heran melihat diriku, di saat genting seperti ini aku malah berleha-leha, padahal sekitar satu bulan lagi kami akan menghadapi Ujian Nasional (UN). Menurut sebagian kakak-kakak kelas yang pernah juga mengalami Ujian ini, mereka bercerita kepada kami secara berlebihan. “ hati-hati dengan ujian ini, karena ujian ini menentukan masa depan kalian. Jangan sampai kalian tidak lulus, ujian ini sangat ketat dan disiplin,tidak diperbolehkan melirik kiri-kanan, kalau pulpen atau alat tulis lainnya jatuh disaat ujian sedang berlangsung, tidak boleh mengambilnya sendiri, harus ketuk meja, acungkan tangan dan pengawas akan mengambilkannya lalu memberinya kembali kepada peserta ujian “. Konsekuensinya adalah, belajar dengan serius dan lebih giat dari sebelumnya.
            Bukan aku saja yang heran melihat diriku, namun masih banyak lagi temanku yang lebih heran. Bayangkan saja, di saat kami diwajibkan membawa buku pelajaran yang diujikan saat Ujian nanti, aku malah dengan bangga memamerkan Novel karya Andrea Hirata itu.
            Selain belajar lebih giat dan tekun, wali kelas meminta kami mengimbangkan antara belajar dan spiritualitas. Apalagi sehabis shalat maghrib, kami diwajibkan membaca surat yaasin di dalam kelas. Itu dilakukan secara rutin sampai Ujian tiba. Saking rutinnya, wajar bila beberapa temanku hapal dengan lancar surat yaasin dari awal sampai akhir.
“ Belajar tanpa do’a sombong, dan berdo’a tanpa belajar bohong “. Inilah Wejangan wali kelas kami,-Ustad Susilahuddin.
Jika ditanya siapa yang paling sering alpa membaca yaasin setelah magrib....? tidak lain dan tidak bukan, itulah aku, pembual brengsek, perusuh kelas kakap.
Aku sering menyendiri mencari ketenangan untuk menamatkan novel itu. Novel itu tidak bisa dibaca di tengah-tengah keramaian, karena menghilangkan kekhusu’an.
Aku sama sekali tidak pernah menyentuh buku lain saat itu. Aku sudah punya komitmen, “ tidak boleh menyentuh buku lain, sebelum Laskar Pelangi ini tuntas ”. bahkan kutulis dengan menggunakan tinta pink dan kutempel di pintu lemari. Dan hasilnya, ; aku ketahuan pengurus kamar dan mendapatkan sedikit cubitan dari rotan, dan pahaku merah.
            Sungguh, saat itu niat belajarku entah kemana. Penyakit malas menghampiriku di saat situasi sedang genting seperti ini. Kalau aku terus seperti ini, akankah aku bisa lulus....???. nanti aku ceritakan.

Kawan.....!!! di sinalah kisah itu kuawali, kisah seru nan menantang sekaligus penuh dengan cahaya-cahaya baru yang melengkapi hidupku,hidupnya dan hidup kami bertiga.
Sebelum kulanjutkan kisah pengalamanku dengan dua bocah jenius ini, maka ijinkan aku bercerita sedikit tentang mereka pada kalian, karena suatu saat nanti jika kalian membutuhkan mereka, kalian akan dengan ikhlas dibantu tanpa pamrih apalagi kalau masalah asmara,,mereka jagonya tanpa diragukan lagi mereka sangat lihai dalam menyelasikan kasus sepele seperti ini, meskipun mereka tidak pernah merasakan apa itu                 “ ASMARA “.
Saudara-saudaraku seiman, simaklah awal pertemuanku dengan mereka...
            Hari itu adalah hari kedatangan santri baru, tepatnya tanggal 25 juli 2005. Aku diantar dengan dua mobil, semua keluargaku dari kakek, nenek, paman, bibi, sepupu-sepuku semuanya ikut mengantar, tapi aku merasa ada salah satu yang tidak ikut sebagai pelengkap, yaitu ; Kakakku sendiri. Dia tidak ikut karena harus menjaga rumah. Sebenarnya aku sangat sedih, tapi harus bagaimana lagi itulah keputusan ayah.

            Di dalam mobil aku hanya termenung, sesekali ayah memandangku,tapi aku hanya bisa menunduk. Nenek juga membelai rambutku dari samping, aku berusaha menahan air mata dengan cara tidak mengeluarkan sepatah katapun. Tapi, malah neneklah yang lebih dulu mengeluarkan air mata. Aku tidak bisa melihat nenek menangis, aku juga ikut menangis sambil memeluk nenek. Ibu, bapak, dan keluargaku yang lain yang ikut mengantar juga merasakan apa yang kurasakan saat itu. Mungkin  Mereka juga memikirkan bagaimana aku menjalankan hari-hariku nanti di pesantren. harus nyuci sendiri dan harus hidup mandiri.
            Sepengetahuanku kakak juga sangat ingin mengantarku sekaligus melepas kepergianku untuk waktu yang cukup lama. Karena, semalam sebelum aku berangkat, aku dan kakak berbicara empat mata di beranda rumah mengenai kepergianku. Dia kelihatan sedih, tidak seperti biasanya. Dia yang selalu menghiburku,  dia yang rela dimarah demi aku ketika ada masalah antara kami, dia yang sering bercerita sebelum tidur, dia yang selalu ceria. Tapi malam itu, semuanya sirna. Dia menatap langit malam yang dipenuhi bintang gemintang di angkasa, lalu mengalihkan pandangan kearahku seraya berkata; 
“mudah-mudahan ayah mengijinkanku untuk ikut mengantarmu besok “.
Setelah mengeluarkan kata menyedihkan itu, dia langsung masuk kedalam rumah.
            Keesokan harinya ketika ibu sudah menyiapkan semua perlengkapanku, ayah datang bersama keluargaku lainnya dengan menggunakan mobil sewa dari pak Mustajab. Kakakku adalah tipe orang yang pendiam. tapi bukan terlalu pendiam, jika sedang berada ditengah teman-temannya. Selain itu dia juga anak yang penurut sangat beda dengan aku yang banyak omong dan selalu mempunyai banyak keinginan, ini-itu macamlah pokoknya. Apalagi kalau keinginanku tidak dipenuhi ibu atau ayah, aku dengan mudah melangkahkan kakiku ke mana  saja dan berhari-hari tidak pulang, ayah panik, semua pengeras suara masjid dan mushola memanggil namaku. Tapi, ayah tidak tahu ketika semua pengeras suara memanggil namaku ,aku sedang berada tidak jauh dari rumah. Hanya saja aku berdiam merenung dan sesekali menggerutu.
            Edy, itulah nama kakakku. Nama yang diberikan ayah untuknya. Nama lengkapnya adalah Rosy Edy Tamala, hanya bebeda dua tahun denganku, dan tanggal lahir kami pun hanya berbeda satu hari. Namanya berakhiran tamala, namaku pun juga demikian. Kami tidak tahu apa tujuan ayah memberikan nama akhiran itu buat kami, apa iya dulu semasa ayah masih muda ayah sangat gemar dengan penampilan indah penyanyi dangdut yang bernama Evy Tamala itu....? E ntahlah, hanya ayah dan ibu yang tahu tentang persoalan nama ini.
            Sejujurnya, aku dari dulu ingin sekali menanyakan identitas nama kami yang berakhiran nama seorang pendangdut ternama yang dimiliki Republik ini, “ Aaaaahhh...!!!! sudahlah nikmati saja, ini pasti ada maksud dan tujuan ayah “. Sungguh pendapat yang sangat tidak memuaskan dari mulut si sulung itu membuatku geram.

*****
            Ayah mencium keningku, ibu membelai dan menghapus air mataku, nenek terisak di belakangku dan keluarga yang lain serta merta membuka dompet masing-masing sembari mengulurkan tangan kepadaku dan jelaslah bahwa mereka mempunyai niat mulia untuk memberiku tambahan uang saku untuk menghadapi adaptasi baru ini.
Semua syarat pendaftaran ulang sudah selesai, mulai dari pengambilan lemari, pembayaran uang administrasi dan penentuan asrama sudah selesai, kini tinggal melepas kepergian ayah, ibu, dan semua yang ikut mengantarku. Sungguh aku berat sekali untuk berpisah dengan ibu, meskipun detik-detik aku meninggalkan rumah kemarin, ibu selalu memarahiku karena aku sering pulang terlalu larut dan aku acu-tak acuh menanggapinya, wajar saja jika ibu melemparku dengan centong beras.
Tapi sekarang, aku benar-benar menyesali semua itu. Aku ingin meminta maaf kepada ibu tapi sudah terlambat. Mereka semua suda meninggalkanku sendiri berdiri di bawah sebuah plang ; “WELCOME TO NURUL HARAMAIN ISLAMIC BOARDING SCHOOL”.
            Aku tetap berdiri sambil memandangi kendaraan mereka  yang  semakin jauh meninggalkanku, tapi dari kejauhan aku melihat ibu tetap menghadap kebelakang tepat kearah di mana aku berdiri. Tampak jelas sekali bahwa ibu sedang memperhatikanku. Aku refleks, aku melambaikan tangan kananku sementara itu tangan kiri menghapus air mata yang mengalir.
Lima belas menit kuberdiri di bawah pelang itu, tanpa kusadari,Kini kendaraan yang tadi mengantarku sudah tidak tampak lagi dan hanya meninggalkan rasa sedih serta sedikit  polusi dari knalpotnya, sama sekali sudah hilang dari pandanganku. Mereka sudah meninggalkanku, mereka sudah pulang.
Sungguh, ini adalah yang pertama kalinya aku berpisah jauh dengan keluarga, terlebih lagi kepada kedua orang tuaku dan kakakku. Namun aku harus tabah dan harus bersabar karena mungkin ini adalah pilihan orangtuaku yang terbaik untuk menghilangkan sifat bandelku.
Aku berdiri sendiri di bawah plang pesantren di gerbang paling depan sambil mengeluarkan isak tangis. Tiba-tiba pandannganku tertuju kepadada seorang anak yang membawa dua tas, satu tas di belakang punggungnya dan satuan lagi di tangan sebelah kanan. Anak itu sendiri tidak ada yang menemaninya, aku yakin bahwa dia juga salah satu santri baru yang akan tinggal sepertiku.
            Dia kelihatan letih, kupandangi berkai-kali raut wajahnya yang sudah bermandikan keringat, namun tampak jelas kulihat sedikit tergores setitik senyuman ketika memandang salah satu kertas yang dipegangnya. Kuhapus airmataku, kubuang jauh-jauh raut sedih yang ada diwajahku, lalu aku dengan penuh percaya diri menghampirinya, dan mengeluarkan sedikit sapaan untuknya.
“ Assalamu’alaikum.....” 


Tips Menulis

Salah satu pertanyaan dari para profesional yang paling sering mampir ke saya adalah yang seperti ini: Bagaimana sih cara menulis buku yang mudah itu? Memang, saya termasuk salah satu penulis yang paling demen memprovokasi kalangan tersebut supaya menulis buku. Bukan cuma menulis buku biasa, tapi menulis buku bestseller, lho! Sekalipun itu baru pengalaman menulis buku yang pertama, saya tetap menegaskan, “Beranilah bermimpi menjadi penulis buku bestseller!”
Sementara lupakan saja soal definisi bestseller. Yang penting, cita-citakan dulu buku kita akan laris di pasaran, lalu beranikan mental, niatkan segera, dan mulai sekarang juga dengan menulis apa pun yang menggoda kita untuk menulis. Sengaja saya dorong-dorong supaya para profesional itu berani menggagas buku bestseller. Mengapa? Ya, supaya semangatlah menulisnya. Kalau menulis tanpa semangat, jangan harap ada roh semangat pula dalam karya kita. Kalau hasil tulisan tidak memiliki roh atau gereget tertentu, mana ada orang yang mau beli dan membacanya, kan?
Balik lagi ke soal bagaimana cara menulis buku yang mudah, saya pun berani menyatakan bahwa menulis buku bestseller itu mudah. Sampai-sampai saya bersama Andrias Harefa (penulis 30 buku laris) mengadakan workshop berjudul “Cara Gampang Menulis Buku Bestseller”, yang pada Agustus 2008 nanti memasuki Angkatan Ke-5. Nah, bagaimana kesan para peserta workshop tersebut? Umumnya mereka sadar dan menjadi yakin, ternyata menulis buku bestseller itu memang mudah. Bagaimana itu? Saya akan kupas beberapa di antaranya dalam artikel ini.
Pertama, kalau mau menulis buku bestseller, cobalah yakin sejak awal bahwa kita semua berpeluang dan mampu melakukan hal tersebut. Penulis senior atau bahkan penulis pemula sekalipun, semuanya punya peluang yang sama untuk menggebrak pasar. Kalau sudah punya keyakinan, cobalah terus memeliharanya, lalu tambahkan dengan semangat yang sungguh-sungguh dialirkan dalam setiap langkah penulisan nantinya.
Kedua, miliki perspektif menulis buku itu mudah, yaitu sekadar aktivitas merangkai huruf, kata, kalimat, paragraf, dan tulisan. Caranya, pandanglah buku itu hanya sebagai kumpulan bab atau tulisan pendek. Sementara, bab atau tulisan pendek itu sendiri hanyalah kumpulan dari paragraf (alinea), paragraf itu sendiri hanya kumpulan dari beberapa kalimat, kalimat hanya kumpulan dari beberapa kata, dan kata hanyalah kumpulan dari beberapa huruf.
Jadi, kalau kita bisa merangkai huruf menjadi kata, merangkai kata-kata menjadi kalimat, kemudian membuat kalimat-kalimat tersebut menjadi paragraf, lalu bisa merangkai sejumlah paragraf menjadi sebuah tulisan, dan terakhir menulis beberapa artikel atau tulisan pendek, ya jadilah buku itu. Sesederhana itulah! Makanya, jangan punya persepsi menulis buku itu sulit.
Ketiga, pilih tema yang pas dengan mempelajari sejarah sekaligus tren tema-tema bukubestseller. Menyangkut sejarah buku bestseller, pasti akan kita temukan tema-temabetseller yang bisa berulang. Sementara soal tren, pasti efek tarikan atas buku betselleryang sedang bergaung. Artinya, kalau ada tema buku bestseller sedang moncer di pasaran, tak menutup kemungkinan tema yang sama juga lagi digemari dan dicari. Jadi, ini peluang bagi penulis-penulis lain yang tajam penciumannya atas selera dan tren pasar.
Keempat, setelah berhasil memilih tema, buatlah outline atau kerangka tulisan. Untuk apa? Untuk mempercepat proses penulisan dan menata supaya tulisan tidak melebar ke mana-mana. Outline bisa dibuat berdasarkan cara atau gaya penulisan kita. Ada yang mampu menulis dengan baik kalau didasari oleh outline yang detail, tapi ada yang lebih efektif dengan outline sederhana. Apa pun pilihannya, efektivitas penulisan tetap menjadi pertimbangan utama. Makanya, bagi yang merasa bisa menulis dengan lebih baik dan cepat tanpa outline, ya abaikan saja outline ini.
Kelima, pilih teknik penulisan buku yang paling efektif dan efisien. Maksudnya? Pilih teknik penulisan yang paling cocok buat kita, paling membuat kita bersemangat, paling mudah dilakukan, dan tentu saja efisien secara waktu. Soal teknik ini menjadi krusial sifatnya bila kita sedang mengejar atau mengikuti tren buku tertentu. Contoh, penulisan buku berbasiskan teknik wawancara, teknik menulis cepat, dan teknik kompilasi artikel/tulisan pendek adalah teknik yang paling cocok untuk menyasar tren buku bestseller.
Keenam, kuasai teknik menulis cepat. Teknik ini didasarkan pada prinsip bahwa ide-ide dasar dan yang paling orisinal harus segera dituliskan supaya tidak menguap. Yang terpenting adalah menuliskan gagasan ketika kita sedang dalam kondisi dibanjiri oleh ide. Soal pengayaan isi dan penyuntingan bisa dilakukan pada tahapan berikutnya. Contoh aplikasi teknik ini adalah; sekali duduk atau menulis, selesailah satu tulisan (artikel) atau bab. Sekali menguasai teknik menulis cepat, masalah penundaan dan kemacetan bisa lebih mudah dihindari atau diatasi.
Ketujuh, alirkan gairah, semangat, visi, dan misi dalam setiap tulisan kita. Salah satu rahasia keberhasilan buku-buku bestseller adalah pada kemampuannya dalam “berbicara” atau menjalin hubungan emosional dengan para pembacanya. Buku yang mengesankan adalah buku yang mampu memengaruhi dan menggerakkan pembacanya dalam beragam cara.
Bagaimana caranya? Ya, selain bisa mengungkapkan pikiran-pikiran atau ide-idenya, penulis harus mampu mentransfer antusiasme, keyakinan, visi-visi, dan kejujurannya kepada pembaca. Kalau sudah begini, tanpa disuruh pun akan ada banyak pembaca yang merekomendasikan buku kita nantinya.
Kedelapan, kuasai teknik pengayaan dan penyuntingan naskah, serta sediakan waktu yang cukup untuk mengolah naskah kita. Naskah yang ditulis dengan cepat biasanya bolong di sana-sini. Pada tahap penyuntingan dan pengayaan inilah kita harus bisa mengerjakan PR kita; mengecek kembali sistematika tulisan, judul bab dan subbab, mengecek ketepatan teori dan pendekatan, kelengkapan data maupun variasi contoh kasus, pengembangan gaya bahasa populer, termasuk soal tata bahasa, dll. Pada tahap ini pula kita berkesempatan untuk meneliti dan merasakan ulang apakah naskah kita sudah cukup “berbicara” kepada calon pembaca nantinya.
Kesembilan, pilih judul yang paling pas. Bila perlu, adakan survei dengan menyodorkan sekurang-kurangnya sepuluh nomine judul. Saya yakin, ada beberapa judul yang benar-benar memiliki efek sugestif kepada para calon pembacanya. Silakan pelajari daftar buku laris versi koran-koran atau majalah, pasti mudah ditemukan judul-judul sejenis itu.
Memang judul bukan faktor yang paling menentukan, tetapi tetap saja, judul yang pas akan menjadi iklan utama bagi sebuah buku. Buku, sama halnya dengan produk lainnya, sekalipun bagus isi/kualitasnya bisa saja tidak dilirik konsumen karena iklan atau judulnya tidak memberikan impresi/kesan kesan yang bagus.
Kesepuluh, bekerjasamalah dengan editor atau penerbit. Setelah berusaha memaksimalkan semua potensi karyanya, setiap penulis harus bekerjasama dengan editor atau penerbit supaya potensi bestseller naskahnya semakin maksimal. Para editor dan penerbit berpengalaman biasanya memiliki data, informasi, atau pengalaman dalam mengolah naskah menjadi buku bestseller. Di sinilah peran mereka dalam men-dandani naskah kita supaya memiliki format, tampilan, atau kemasan yang menjual. Kadang mereka membutuhkan ide-ide orisinal kita, kadang justru kitalah yang harus berkompromi dengan strategi mereka. Semuanya butuh kerjasama demi hasil maksimal dan menguntungkan kedua belah pihak.
Nah, apakah dengan menjalankan langkah-langkah di atas dipastikan bisa menghasilkan buku bestseller? Saya katakan tidak ada jaminan. Kadang berhasil, kadang juga tidak. Masih banyak variabel yang memengaruhi dan menentukan. Tetapi kepada setiap penulis saya selalu katakan, itulah area atau variabel yang bisa kita kontrol dan maksimalkan potensinya. Setelahnya hanyalah hasil interaksi di pasar.
Namun, saya berani pastikan, menulis buku dengan cara atau strategi seperti di atas sanggup memberikan pengalaman yang sangat menggairahkan. Saya, sejumlah penulis dan penerbit, serta para klien saya, merasakan betul manfaatnya. Selamat menulis buku bestseller![ez]
Sumber: www.pembelajaran.com